
Investasi saham sering kali di anggap sebagai “kotak hitam” yang penuh teka-teki bagi sebagian orang. Ada yang melihatnya sebagai jalan pintas menuju kekayaan, sementara yang lain memandangnya sebagai perjudian yang berisiko tinggi.
Investasi saham sering kali di anggap sebagai “kotak hitam” yang penuh teka-teki bagi sebagian orang. Ada yang melihatnya sebagai jalan pintas menuju kekayaan, sementara yang lain memandangnya sebagai perjudian yang berisiko tinggi. Namun, secara objektif, saham adalah salah satu instrumen keuangan paling kuat yang pernah di ciptakan untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Secara sederhana, saham adalah bukti kepemilikan seseorang atas sebuah perusahaan. Ketika Anda membeli saham PT Telkom Indonesia atau PT Bank Central Asia (BCA), Anda secara resmi menjadi salah satu pemilik perusahaan tersebut, meskipun porsinya mungkin hanya sepersejuta persen.
Sebagai pemilik (pemegang saham), Anda memiliki dua hak utama:
- Hak atas keuntungan: Jika perusahaan meraup laba, Anda berhak mendapatkan bagian yang di sebut dividen.
- Hak atas suara: Anda berhak memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menentukan arah kebijakan perusahaan.
Mengapa Harus Berinvestasi Saham?
Banyak orang bertanya, mengapa tidak menyimpan uang di tabungan biasa saja? Jawabannya adalah inflasi. Inflasi menggerus nilai mata uang setiap tahunnya. Jika bunga tabungan Anda hanya 1% sementara inflasi mencapai 4%, maka secara riil kekayaan Anda justru berkurang.
Saham menawarkan potensi imbal hasil (return) yang umumnya jauh melampaui inflasi dalam jangka panjang. Melalui mekanisme compounding interest (bunga berbunga), modal kecil yang diinvestasikan secara rutin dapat tumbuh menjadi jumlah yang signifikan dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun.
Dua Cara Mendapatkan Keuntungan
Dalam dunia saham, investor mencari keuntungan melalui dua jalur utama:
- Capital Gain: Selisih harga jual yang lebih tinggi di bandingkan harga beli. Misalnya, Anda membeli saham seharga Rp1.000 dan menjualnya saat harga mencapai Rp1.500. Selisih Rp500 itulah keuntungan Anda.
- Dividen: Pembagian laba bersih perusahaan kepada pemegang saham. Perusahaan yang mapan biasanya rutin membagikan dividen setahun sekali atau dua kali sebagai bentuk apresiasi kepada investor.
Mengenal Risiko: Tidak Ada Makan Siang Gratis
Investasi saham tidak lepas dari risiko. Prinsip utamanya adalah High Risk, High Return. Beberapa risiko yang harus di pahami antara lain:
- Capital Loss: Kebalikan dari capital gain, di mana Anda menjual saham di bawah harga beli karena nilai pasarnya turun.
- Risiko Likuiditas: Kondisi di mana saham sulit di jual kembali karena tidak ada pembeli di pasar (biasanya terjadi pada saham lapis ketiga atau “saham gorengan”).
- Risiko Delisting: Perusahaan di paksa keluar dari bursa efek karena kinerja buruk atau melanggar aturan, sehingga sahamnya tidak bisa di perdagangkan secara publik lagi.
Strategi Analisis: Fundamental vs Teknikal
Untuk meminimalisir risiko dan memaksimalkan cuan, investor biasanya menggunakan dua pendekatan analisis:
1. Analisis Fundamental
Analisis ini berfokus pada “kesehatan” perusahaan. Investor akan membedah laporan keuangan, mengamati laba bersih, utang, manajemen, hingga kondisi ekonomi makro. Tujuannya adalah mencari perusahaan yang memiliki bisnis kuat namun harganya masih murah (undervalued).
Indikator Penting: Price to Earnings Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), dan Return on Equity (ROE).
2. Analisis Teknikal
Analisis ini lebih banyak di gunakan oleh trader jangka pendek. Fokusnya bukan pada bisnis perusahaan, melainkan pada pergerakan harga dan volume perdagangan di masa lalu yang di gambarkan dalam grafik (chart). Mereka percaya bahwa sejarah harga cenderung berulang.
Langkah Memulai bagi Pemula
Memulai investasi saham saat ini jauh lebih mudah di bandingkan sepuluh tahun lalu. Berikut langkah-langkah praktisnya:
- Pilih Perusahaan Sekuritas: Buka rekening efek di perusahaan sekuritas yang terdaftar dan di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat ini banyak aplikasi sekuritas yang memungkinkan pendaftaran secara online.
- Siapkan Modal “Uang Dingin”: Jangan pernah menggunakan uang untuk kebutuhan pokok atau uang sekolah anak untuk membeli saham. Gunakan uang yang memang di alokasikan untuk investasi.
- Pilih Saham Blue Chip: Untuk pemula, sangat di sarankan memulai dengan saham Blue Chip (saham lapis satu). Ini adalah saham perusahaan besar dengan rekam jejak keuangan yang stabil dan manajemen yang profesional.
- Di versifikasi: Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Bagilah modal Anda ke beberapa sektor industri yang berbeda (misalnya: perbankan, konsumsi, dan telekomunikasi) untuk memitigasi risiko.
Psikologi Investor: Musuh Terbesar Adalah Diri Sendiri
Banyak investor gagal bukan karena mereka tidak pintar secara matematis, melainkan karena mereka tidak bisa mengendalikan emosi. Ada dua emosi dominan di pasar saham: Fear (Takut) dan Greed (Serakah).
Saat pasar sedang “crash” atau turun tajam, banyak orang panik dan menjual sahamnya di harga rendah (panic selling). Sebaliknya, saat harga sedang naik tinggi, banyak orang terjebak euforia dan membeli di harga puncak karena takut tertinggal (FOMO). Investor yang sukses adalah mereka yang memiliki di siplin, kesabaran, dan rencana investasi yang jelas.
Masa Depan Pasar Modal Indonesia
Pasar modal Indonesia (Bursa Efek Indonesia) terus menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar dan penetrasi internet yang semakin luas, jumlah investor domestik terus meningkat pesat. Hal ini memberikan stabilitas pada pasar agar tidak terlalu bergantung pada aliran dana asing.
Sektor-sektor baru seperti teknologi, ekonomi hijau (energi terbarukan), dan kesehatan di prediksi akan menjadi penggerak baru di masa depan, memberikan pilihan yang lebih beragam bagi para investor untuk menaruh modalnya.
Sejarah pasar modal di Indonesia memiliki perjalanan yang sangat panjang, bahkan sudah dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka.
1. Era Kolonial Belanda (1912 – 1940)
Pasar modal Indonesia pertama kali di dirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 14 Desember 1912 dengan nama Vereniging voor de Effectenhandel (Bursa Efek) di Batavia (Jakarta).
- Tujuan: Untuk melayani kepentingan modal perusahaan Belanda yang beroperasi di Hindia Belanda, seperti perkebunan dan pertambangan.
- Ekspansi: Keberhasilan bursa di Batavia memicu pembukaan bursa di kota lain, yaitu Surabaya (1925) dan Semarang (1925). Namun, aktivitas ini terhenti total saat Perang Dunia II pecah.
2. Pasca Kemerdekaan & Vakum (1950 – 1976)
Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia mencoba mengaktifkan kembali bursa pada tahun 1952 untuk memperdagangkan obligasi pemerintah. Namun, upaya ini kurang maksimal karena:
- Terjadinya nasionalisasi perusahaan Belanda.
- Inflasi yang sangat tinggi di era Orde Lama.
- Ketidakstabilan politik dan ekonomi yang membuat pasar modal mati suri selama hampir dua dekade.
3. Era Reaktivasi Orde Baru (1977 – 1987)
Pada tanggal 10 Agustus 1977, Presiden Soeharto meresmikan kembali Bursa Efek Jakarta (BEJ). PT Semen Cibinong menjadi perusahaan pertama yang mencatatkan sahamnya (IPO) saat itu.
- Pemerintah membentuk BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal) untuk mengawasi dan mengelola bursa.
- Pertumbuhan awalnya lambat karena regulasi yang ketat dan sedikitnya jumlah emiten.
4. Era Reformasi Regulasi (1987 – 2007)
Pemerintah mengeluarkan berbagai paket deregulasi (seperti PAKTO 88) untuk mempermudah perusahaan melantai di bursa.
- 1989: Bursa Efek Surabaya (BES) resmi di dirikan sebagai bursa swasta.
- 1995: Penggunaan sistem otomatisasi perdagangan bernama Jakarta Automated Trading System (JATS) menggantikan sistem papan tulis manual.
- 2000: Sistem perdagangan tanpa warkat (scripless trading) mulai di perkenalkan.
5. Penggabungan & Modernisasi (2007 – Sekarang)
Momen besar terjadi pada akhir 2007 ketika Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) bergabung menjadi satu entitas tunggal: Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX).
- 2012: Fungsi pengawasan pasar modal beralih dari Bapepam-LK ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
- Era Digital: Terjadi ledakan jumlah investor ritel karena kemudahan akses melalui aplikasi mobile dan kampanye Yuk Investasi .