Celah Child Grooming: Bermula Dari Curhat Di Second Account

Celah Child Grooming: Bermula Dari Curhat Di Second Account

Celah Child Grooming: Bermula Dari Curhat Di Second Account Yang Bisa Menjadi Akses Para Pelaku Untuk Masuk. Praktik ini bisa berbasis online terus berkembang seiring perubahan cara anak. Dan juga remaja berinteraksi di media sosial. Jika dulu pelaku kerap menyasar ruang publik seperti kolom komentar. Namun kini pola tersebut bergeser ke area yang lebih personal. Salah satu Celah Child Grooming yang paling sering di manfaatkan adalah second account. Dan akun kedua yang biasanya di gunakan anak dan remaja sebagai ruang curhat, mengekspresikan emosi, hingga berbagi cerita pribadi. Fenomena ini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Komisioner Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), Gunawan, mengungkapkan bahwa dari sejumlah Celah Child Grooming online yang di dampingi, pelaku tidak bertindak secara acak. Mereka melakukan pengamatan terlebih dahulu, mempelajari kebiasaan korban. Lalu masuk secara perlahan melalui ruang digital yang di anggap aman oleh anak.

Second Account Jadi Ruang Rentan Bagi Anak Dan Remaja

Second account seringkali di buat dengan tujuan sederhana: tempat mencurahkan isi hati tanpa tekanan sosial. Dan akun ini biasanya bersifat privat, hanya di ikuti oleh orang-orang tertentu yang di anggap dekat dan di percaya. Sayangnya, justru di sinilah letak kerentanannya. Anak dan remaja cenderung lebih terbuka di second account, membagikan perasaan sedih. Dan juga konflik keluarga, hingga pengalaman pribadi. Informasi emosional ini menjadi “peta” bagi pelaku untuk membaca kondisi psikologis korban. Ketika anak terlihat sedang rapuh, pelaku melihat peluang untuk masuk dan membangun kedekatan secara perlahan.

Pelaku Tidak Acak, Tapi Mengamati Dengan Cermat

Menurut Gunawan dari Komnas Anak, pelaku child grooming online sangat sistematis. Mereka tidak serta-merta mengirim pesan ke banyak akun. Sebaliknya, pelaku mengamati aktivitas anak terlebih dahulu. Serta yang termasuk unggahan, komentar, dan interaksi di media sosial. Second account menjadi sumber informasi penting karena isinya lebih jujur dan emosional. Dari sana, pelaku bisa mengetahui apa yang sedang di alami korban, apa yang mereka butuhkan. Dan bagaimana pendekatan yang paling efektif. Pendekatan awal biasanya terlihat ramah, suportif, dan seolah peduli. Sehingga korban tidak menyadari adanya ancaman.

Pola Pendekatan Di Mulai Dari Empati Palsu

Fakta menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah pendekatan pelaku hampir selalu di mulai dari empati. Pelaku hadir sebagai pendengar yang baik, memberi dukungan saat anak merasa sedih atau kesepian. Mereka menciptakan rasa aman dan kepercayaan sebelum perlahan melangkah lebih jauh. Setelah hubungan emosional terbentuk, pelaku mulai meningkatkan intensitas komunikasi. Kemudian yang mengajak pindah ke platform yang lebih privat. Terlebihnya hingga perlahan menormalisasi percakapan yang tidak pantas. Proses ini sering berlangsung lama dan halus. Sehingga korban sulit menyadari bahwa mereka sedang di manipulasi.

Tantangan Orang Tua Dan Pentingnya Literasi Digital

Perkembangan child grooming online menghadirkan tantangan besar bagi orang tua dan pendidik. Banyak orang tua tidak mengetahui keberadaan second account anak. Apalagi isi dan interaksi di dalamnya. Padahal, pengawasan yang terlalu ketat juga bisa membuat anak semakin tertutup. Karena itu, pendekatan yang di butuhkan adalah komunikasi terbuka dan literasi digital. Anak perlu di bekali pemahaman bahwa tidak semua perhatian di dunia maya tulus. Mereka juga harus tahu batasan dalam berbagi cerita pribadi. Meski di akun yang terasa aman. Komnas Anak menekankan pentingnya edukasi sejak dini. Tentunya agar anak mampu mengenali tanda-tanda grooming dan berani melapor jika merasa tidak nyaman.

Kesadaran ini menjadi benteng utama untuk mencegah kejahatan seksual berbasis digital. Kasus child grooming online menunjukkan bahwa ancaman terhadap anak kini semakin kompleks dan tersembunyi. Second account yang awalnya menjadi ruang aman justru bisa berubah menjadi pintu masuk pelaku, jika tidak di sertai pemahaman risiko. Fakta-fakta yang diungkap Komnas Anak menjadi pengingat bahwa perlindungan anak di era digital membutuhkan peran bersama. Orang tua, sekolah, dan lingkungan harus hadir sebagai pendamping. Namun bukan penghakim. Dengan komunikasi yang sehat dan edukasi yang tepat, ruang digital bisa kembali menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak dan remaja.

Jadi yang tadinya bermula curhat di second account bisa jadi Celah Child Grooming.