
Sejarah Perbankan di Indonesia adalah cermin dari perjalanan bangsa ini mulai dari alat kolonialisme, simbol kedaulatan, hingga motor penggerak ekonomi digital modern.
Sejarah Perbankan di Indonesia adalah cermin dari perjalanan bangsa ini mulai dari alat kolonialisme, simbol kedaulatan, hingga motor penggerak ekonomi digital modern. Memahami sejarah Perbankan ini berarti melihat bagaimana uang dan kekuasaan berinteraksi di Nusantara selama berabad-abad.
1. Era Kolonial: Fondasi yang Diskriminatif
Sistem perbankan modern di Indonesia tidak lahir dari tradisi lokal, melainkan di bawa oleh bangsa Eropa untuk memfasilitasi perdagangan rempah-rempah.
- Bank Pertama: Pada tahun 1746, VOC mendirikan De Bank van Leening untuk memberikan pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Namun, bank ini gagal karena salah urus dan korupsi.
- De Javasche Bank (DJB): Didirikan pada 24 Januari 1828, DJB adalah cikal bakal Bank Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda memberikan “Oktroi” (hak istimewa) kepada DJB untuk mencetak dan mengedarkan uang gulden.
- Bank Lainnya: Muncul pula bank-bank swasta Belanda seperti Nederlandsch-Indische Handelsbank, serta bank dari Inggris dan Jepang yang melayani eksploitasi perkebunan dan tambang.
Pada masa ini, akses perbankan sangat terbatas. Penduduk pribumi hampir tidak tersentuh oleh layanan bank formal, sehingga mereka lebih banyak bergantung pada lintah darat atau sistem gadai tradisional.
Kebangkitan Nasional: Bank sebagai Alat Perjuangan
Memasuki awal abad ke-20, para tokoh pergerakan nasional menyadari bahwa kemerdekaan politik mustahil di capai tanpa kemandirian ekonomi. Mereka mulai mendirikan lembaga keuangan untuk membantu pengusaha pribumi.
- Bank Nasional Indonesia (BNI): Di dirikan oleh Raden Mas Margono Djojohadikusumo pada tahun 1946 (pasca-kemerdekaan), BNI adalah bank pertama yang di dirikan oleh bangsa Indonesia.
- Bank Rakyat Indonesia (BRI): Sejarahnya bermula jauh sebelumnya, yakni tahun 1895 di Purwokerto oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja sebagai lembaga bantuan untuk kaum priyayi dan rakyat kecil agar tidak terjerat rentenir.
Indonesia harus berjuang merebut kendali ekonomi dari tangan Belanda.
Setelah Proklamasi 1945, Indonesia harus berjuang merebut kendali ekonomi dari tangan Belanda.
- Nasionalisasi De Javasche Bank: Melalui UU No. 11 Tahun 1953, pemerintah Indonesia menasionalisasi DJB dan mengubah namanya menjadi Bank Indonesia (BI). BI resmi menjadi bank sentral yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter.
- Era Orde Lama: Banyak bank asing di nasionalisasi. Pemerintah juga membentuk berbagai bank sektoral, seperti Bank Dagang Negara (BDN) dan Bank Ekspor Impor (Bank Exim).
- Bank Berjuang: Di bawah sistem “Ekonomi Terpimpin”, perbankan di gunakan sebagai alat politik untuk mendanai proyek-proyek mercusuar pemerintah, yang sayangnya memicu inflasi hebat di tahun 1960-an.
Era Orde Baru: Deregulasi dan Ledakan Perbankan
Di bawah kepemimpinan Soeharto, sektor perbankan mengalami transformasi besar untuk mendukung pembangunan.
- Stabilisasi (1966–1980): Pemerintah fokus menekan inflasi dan memperkuat bank-bank pemerintah.
- Paket Kebijakan Oktober 1988 (PAKTO 88): Ini adalah titik balik paling dramatis. Pemerintah mempermudah izin pendirian bank baru hanya dengan modal Rp1 miliar. Akibatnya, jumlah bank swasta meledak, namun pengawasannya sangat lemah. Banyak konglomerat mendirikan bank hanya untuk membiayai grup perusahaan mereka sendiri.
Krisis Moneter 1998: Runtuhnya Menara Gading
Euphoria perbankan pasca-PAKTO 88 berakhir tragis. Krisis keuangan Asia tahun 1997/1998 menghancurkan fondasi ekonomi Indonesia.
- Likuidasi Bank: Puluhan bank di tutup karena tidak mampu membayar utang dan kekurangan likuiditas. Kepercayaan masyarakat runtuh, memicu bank run (penarikan dana massal).
- BLBI: Pemerintah terpaksa mengucurkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencapai ratusan triliun rupiah untuk menyelamatkan sistem keuangan.
- Lahirnya Bank Mandiri: Sebagai bagian dari restrukturisasi, empat bank pemerintah yang sakit (BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo) di merger menjadi Bank Mandiri pada tahun 1998.
Era Bank Digital: Munculnya bank tanpa kantor cabang fisik
- Era Bank Digital: Munculnya bank tanpa kantor cabang fisik (seperti Bank Jago, Blu, atau Seabank) telah mengubah cara masyarakat bertransaksi.
- Konsolidasi Perbankan Syariah: Pada tahun 2021, tiga bank syariah milik negara (Mandiri Syariah, BNI Syariah, dan BRI Syariah) bergabung menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar keuangan Islam global.
- Inklusi Keuangan: Melalui fitur mobile banking dan QRIS, layanan keuangan kini menjangkau pelosok desa yang sebelumnya tidak terjamah oleh kantor bank.
1. Pertumbuhan Transaksi yang Masif
- Kenaikan Transaksi: Transaksi digital banking tumbuh sekitar 40,1% (yoy) pada akhir 2024.
- Dominasi QRIS: Volume transaksi QRIS tumbuh pesat hingga 170,1% (yoy) pada awal 2025, di dorong oleh integrasi bank digital yang mempermudah pembayaran ritel tanpa kartu.
- Pergeseran Perilaku: Penggunaan kartu ATM dan debit mulai menurun seiring dengan masyarakat yang lebih memilih fitur tarik tunai tanpa kartu (cardless) dan transfer via BI-FAST yang murah.
2. Tren “Lifestyle Banking” & Beyond Banking
- Ekosistem Terintegrasi: Bank digital kini “menempel” pada ekosistem besar. Contohnya Bank Jago dengan GoTo, SeaBank dengan Shopee, dan Allo Bank dengan ekosistem CT Corp. Ini memungkinkan nasabah belanja, pesan makanan, dan menabung dalam satu alur.
- Fitur Personalisasi: Penggunaan AI (Artificial Intelligence) dan Big Data memungkinkan bank menawarkan promo yang sangat spesifik atau fitur pengelolaan keuangan otomatis (seperti “Kantong” atau “Pocket”) untuk membantu nasabah mengatur budget.
3. Peta Persaingan & Profitabilitas
- Mulai Cetak Laba: Beberapa pemain besar seperti Bank Jago, SeaBank, dan Allo Bank telah mencatatkan laba bersih. Bank digital baru seperti Krom Bank juga menunjukkan pertumbuhan positif sejak beroperasi di 2024.
- Perang Suku Bunga: Meski masih kompetitif, bank digital mulai bergeser dari sekadar adu bunga deposito tinggi ke penguatan fitur layanan dan keamanan untuk menjaga loyalitas nasabah.
Serangan phishing dan social engineering
- Keamanan Siber: Serangan phishing dan social engineering tetap menjadi ancaman nomor satu. Kepercayaan nasabah sangat bergantung pada seberapa kuat bank melindungi data pribadi.
- Kesenjangan Infrastruktur: Meskipun penetrasi internet tinggi di perkotaan, akses di daerah terpencil masih menjadi hambatan bagi inklusi keuangan digital yang merata.
- Literasi Digital: Masih banyak masyarakat yang memiliki akses teknologi tetapi belum paham cara menjaga keamanan akun (seperti menjaga kode OTP).
-
Kesimpulan
Sejarah bank di Indonesia adalah narasi tentang adaptasi. Dari alat penindas di zaman Belanda, menjadi alat perjuangan di masa kemerdekaan, hingga menjadi pilar teknologi di masa kini. Tantangan ke depan bukan lagi soal jumlah bank, melainkan bagaimana perbankan bisa tetap aman di tengah ancaman siber dan tetap inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.perkembangan bank digital di Indonesia saat ini telah memasuki fase kematangan dan ekspansi. Jika sebelumnya bank digital dianggap sebagai alternatif atau “simpanan kedua”, pada tahun 2024 dan memasuki 2025, bank digital telah menjadi pilar utama transaksi harian masyarakat, daripada Perbankan